Refleksi Penggiat Literasi

Hari ini sembari di rumah sakit menunggu saudara yang terkena DBD saya sempatkan membaca beranda facebook bapak Ngainun Naim. Tulisan tulisan beliau sangat luar biasa dan dikemas dalam bahasa yang mudah dipahami. Hari ini bapak Ngainun naim memposting tentang literasi sebagai gaya hidup. Bahwa gembor gembor gerakan literasi kalau tidak diimbangi dengan kekonsistenan penggeraknya untuk selalu membaca dan menulis ternyata hanya sebuah kenaifan saja.

Tempo lalu saya memiliki ide bagaimana menggerakan budaya literasi di lingkungan IAIMNU Metro karena melihat kurangnya budaya membaca dan menulis terutama di kalangan mahasiswa. Namun, Setelah membaca tulisan bapak Ngainun naim saya merasa terpukul sekali. Sebuah pukulan yang mengingatkan bahwa seberapa besar niatan menggerakan literasi di kalangan mahasiswa seperti belum diimbangi oleh penggiatnya (saya sendiri) untuk selalu konsisten membaca dan menulis. Jadi merasa naif sendiri. Tapi setidaknya ini mengingatkan kembali dan memberikan amunisi tersendiri bagi saya untuk semangat. Maklumlah semangatnya masih naik turun.

Pada bagian paragraf selanjutnya, bahwa menurut
Gola Gong dan Hernowo dalam tulisan bapak Ngainun naim

Membaca bukan sekadar membuat diri kita kaya akan pengetahuan. Membaca juga bukan sekadar meluaskan wawasan kita. Bahkan membaca tidak harus berhenti hanya untuk keperluan studi, misalnya, membuat skripsi atau karya tulis ilmiah yang lain. membaca lebih dari itu. Membaca, seperti kata Iqbal, menjadikan diri kita sebagai “tenaga kreatif, ruh yang membubung tinggi, yang dalam bergerak maju, bangkit dari satu keadaan menuju keadaan yang lain”. atau membaca akan membuat diri kita, sebagai manusia, dapat “menyelidiki kebenaran” (h. 94).

Pentingnya sebuah proses, ketekunan yang terus menerus untuk menjadikan literasi sebagai sebuah gaya hidup. Menurut sahabat dari Universitas Sarjana Wiyata Yogyakarta Sri Adi ternyata menulis itu tidak mutlak karena tingkat intelektualitas yang tinggi namun menulis itu yang terpenting siap menahan malu dan sregep. Maksud dari siap menahan malu adalah sebagai penulis pemula seperti saya tentunya dalam menulis isinya masih semrawut berbeda dengan bapak Ngainun naim. Namun, bukankah semuanya juga karena proses. Proses pemula tentunya pernah dilalui oleh para penulis handal di dunia ini. Kalau dalam matematika menemukan delta itu dicari dari berapa jarak awalnya (x1) dan jarak akhirnya (x2). Kesuksesan tentunya harus dimulai dari pemula dulu dan harus ada jarak yaitu proses yang mesti dilalui serta kuncinya telaten.

Memulai literasi dari diri sendiri untuk selalu berusaha membaca dan menulis dengan targetan yang jelas. Hingga nantinya literasi bisa menjadi gaya hidup. Saya teringat dengan quote ibu sri mulyani menteri keuangan: jika ingin melakukan perubahan kita harus bisa mentransformasikan diri kita masing masing untuk menjadi role model ditempat kita. Ini tentunya menguatkan pendapat di atas bahwa agar penggagas literasi perlu konsisten dengan diri sendiri untuk menulis dan membaca, sehingga menjadi role model di tempatnya bekerja dan pada akhirnya literasi bisa menjadi sebuah budaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *