Adab Belajar Menurut KH. Hasyim Asy’ari

Apabila kita melihat kasus akhir-akhir ini yang tersebar di dunia maya tentang perilaku siswa yang melawan guru ketika pembelajaran di kelas berlangsung tentunya menjadikan pukulan berat bagi dunia pendidikan. Degradasi moral yang terjadi saat ini tentunya juga merupakan buah hasil dari segala pembelajaran yang diberikan baik oleh orang tua dan lingkungan. Ini bukan saja merupakan tanggung jawab keluarga dan sekolah namun lingkungan juga memberikan pengaruh yang besar atas terbentuknya karakter siswa saat ini. Apabila kita bandingkan dengan sekolah tempo dulu, pengalaman penulis sendiri saat mengenyam pendidikan di bangku sekolah. Saat berjalan menuju sekolah jika bersama dengan guru maka siswa tidak berani mendahuluinya lebih memilih untuk berjalan di belakang guru. Saat guru memasuki kelas, murid telah siap untuk menerima ilmu yang akan diberikan sekalipun sulit atau tidak siswa akan segan dengan kedatangan guru di kelas. Namun, jika kita lihat fenomena akhir-akhir ini, tentunya tidak mudah bagi seorang guru di masa ini untuk mengajar di kelas. Memang benar guru harus memiliki segudang strategi untuk melakukan pendekatan dan pengajaran kepada siswa dengan berbagai macam karakter namun juga tidak menutup mata bahwa tidak hanya strategi untuk mengajarkan saja yang diperlukan. Kalau kita lihat memang banyak sekali model pembelajaran yang inovatif untuk diterapkan guru. Tetapi yang dihadapi guru saat ini bukan hanya permasalahan minat belajar siswa yang kurang tetapi lebih pada karakter siswa saat ini. Kepatuhan kepada guru dan kesadaran untuk menimba ilmu yang sangat kurang. Ditambah lagi pergaulan yang didapatkan dan perkembangan teknologi yang tidak dapat dibendung.

Salah satu upaya untuk memutus tali rantai ini perlu peran serta semua aspek baik keluarga, sekolah dan lingkungan. Telah dipaparkan di atas bahwa akar permasalahan ini adalah tentang karakter anak yang telah terbentuk. Dengan demikian pendidikan awal yang perlu ditanamkan dalam diri siswa yaitu tentang ajaran agama. Fondasi agama yang kuat tentunya akan berbanding lurus dengan akhlak yang dimiliki oleh seorang anak. Nahdlatul Ulama merupakan organisasi agama yang mengajarkan islam Ahlusunnah wal jamaah. Mengajarkan islam berdasarkan ajaran-ajaran ulama yang jelas sanadnya. Membentuk akhlak anak bisa dengan mengirimkannya ke pondok pesantren untuk menimba ilmu agama ataupun membentuk lingkungan yang agamis dan mengamalkan ajaran-ajaran islam ahlusunah waljamaah

Salah satu lembaga pendidikan di bawah naungan Nahdlatul Ulama yaitu Institut Agama Islam Ma’arif NU (IAIMNU) Metro. Salah satu Fakultas yang ada di IAIMNU Metro yaitu Fakultas Tarbiyah yang memiliki tugas untuk mencetak calon pendidik. Fenomena menurunnya akhlak siswa saat ini tentunya juga menjadi tanggung jawab IAIMNU Metro sebagai salah satu lembaga perguruan tinggi yang mencetak calon pendidik. Pada tulisan ini penulis akan memaparkan adab-adab Pelajar kepada Guru Menurut KH. Hasyim Asy’ari yang bersumber dari  https://www.nu.or.id/. Seperti yang kita ketahui bahwa KH. Hasyim Asy’ari merupakan tokoh pendiri Nahdlatul Ulama dan dijadikan tokoh panutan bagi warga Nahdlatul Ulama. Pada level perguruan tinggi memang sebenarnya sudah bukan pada tatarannya lagi membentuk akhlak dan sikap anak yang semestinya sudah diperoleh dari pendidikan dasarnya dulu. Namun, tidak menutup kemungkinan untuk memperbaiki sistem pendidikan yang kita miliki dapat selalu disampaikan mengenai akidah dan adab yang baik dalam belajar. Tentunya dengan disampaikan kepada mahasiswa calon pendidik dapat mengingatkan kepada diri masing-masing tentang adab yang semestinya ditaati saat belajar. Dan lebih lanjut, calon pendidik ini dapat mengajarkannya kelak kepada siswa-siswanya maupun kepada anak-anaknya

Pertama, yang perlu diperhatikan dalam belajar yaitu memilih guru yang tepat. Banyaknya lembaga pendidikan saat ini, tentunya memberikan peluang orang tua untuk menyekolahkan anak-anaknya di sekolah favorit. Namun yang paling penting dalam pemilihan sekolah ini perlu diutamakan memilih sekolah yang tepat. Tepat yang dimaksud dalam hal ini adalah sekolah yang jelas visi misinya dan capaiannya baik dalam bidang spiritualtas, afektif, kognitif maupun psikomotornya. Kedua, Memilih guru yang kredibel yaitu guru yang memiliki keahlian di bidangnya. Pada bidang agama diajarkan oleh guru yang memang memilki keahlian di bidang tersebut atapun dibidang matematika maka diajar oleh guru yang memiliki keahlian di bidang matematika. Dua hal tersebut merupakan bagian pada pemilihan tempat belajar. Selanjutnya bagaiman adab ketika belajar berlangsung. Seorang murid harus mematuhi perintah guru. Bentuk kepatuhan kepada guru didasarkan bahwa guru itu adalah orang yang dipatuhi dan ditiru oleh murid. Saat ini kepatuhan kepada guru sangat memprihatinkan sekali maka perlu dilakukan sebuah instropeksi kembali. Selanjutnya murid harus mematuhi perintah guru dan memandang guru dengan kemuliaan. Kepatuhan dan kemuliaan yang diberikan kepada guru akan memudahkan murid untuk belajar. Tugas maupun perintah yang diberikan guru pasti mengarahkan kepada kebaikan untuk muridnya. Tinggal sekarang bagaimana murid dapat memberikan kepatuhan dan memandang mulia gurunya.

Hal yang tidak kalah penting adalah sebagai seorang murid yaitu tidak melupakan jasa guru. Sebuah kesuksesan dan ilmu yang didapatkan saat ini tentunya tidak terlepas dari peranan guru sehingga dimanapun seorang murid selalu mengingat dengan jasa-jasa guru. Penulis pernah melihat bentuk budaya warga Jepang yang sangat mengingat jasa guru hingga ketika di sebuah rumah makan seorang pengusaha sukses yang tidak sengaja bertemu dengan guru di rumah makan tersebut langsung memberikan penghormatan dan menyapa dengan guru tersebut. Pertanyaannya bagaimana dengan kita sekarang, hal ini yang perlu menjadi instropeksi diri dari masing-masing diri kita karena keberkahan ilmu yang kita miliki tentunya dipengaruhi dengan ridho dari guru yang memberikannya. Seorang murid perlu memiliki sikap sabar menghadapi guru. Guru juga adalah manusia biasa yang memiliki kelemahan dan keterbatasan. Disaat guru tidak hadir ataupun terlambat murid harus memiliki kesabaran atapun atas tugas yang diberikan. Adab yang selanjutnya adalah meminta izin ketika memasuki kelas. Forum diskusi di kelas tentunya guru merupakan panutan yang harus dihormati sehingga ketika seorang murid ingin masuk atapun keluar harus meminta izin kepada guru. Saat menuntut ilmu di kelas seorang murid perlu duduk yang sopan dan penuh etika. Siap memperhatikan guru yang menyampaikan materi dan tidak melakukan gerakan-gerakan yang menggangu jalannya pembelajaran. Ataupun kebiasaan yang sering didapati adalah terpecahnya fokus seorang murid dengan gadgetnya. Teknologi dapat digunakan sebagai sarana penunjang belajar namun harus foikus pada koridornya dan tidak menggunakannya untuk hal-hal yang mengganggu misalkan aktif sendiri dengan dunai maya melalui gadgetnya.

Perilaku berbicara yang baik kepada guru adalah adab yang diajarkan oleh KH. Hasyim Ashari. Seorang murid dalam sebuah diskusi ataupun pembelajaran tidak boleh memotong pembicaraan guru namun ketika akan mengungkapkan pendapatnya menunggu izin dari guru dan menyampaikannya dengan santun. Adab ini bukan membatasi seorang murid untuk kitis ataupun mengungkapkan pendapat namun adab ini mengajarkan dan membentuk karakter bagaimana untuk menghormati orang yang sedang berbicara. Saat guru memberikan penjelasan di kelas, fokus perhatian siswa pada apa yang disampaikan pada guru. Inilah proses mendapatkan pengetahuan maka perlu perhatian ketika guru sedang menjelaskaan dan tidak sibuk untuk berdiskusi sendiri. Ketika kita menghargai guru di depan maka kelak ketika kita menjadi gurupun kita akan dihormati oleh siswa.

Seorang murid hendaknya tidak mendahului keterangan guru. Memang dengan perkembangan teknologi saat ini memungkinkan siswa untuk mengakses pengetahuan lebih awal sebelum guru menyampaikan. Namun, sekalipun kita sudah tahu, jangan mendahului keterangan guru. Ini sama halnya dengan berjalan kaki sekalipun kita mampu untuk berjalan mendahului guru tetap kita harus menunggu. Pengetahuan itu luas apapun yang disampaikan guru tentunya akan menambah luasnya samudra pengetahuan kita. Pada bagian terakhir murid perlu menjaga etika saat menerima atau memberi sesuatu dari guru. Menggunakan tangan kanan saat memberikan barang dan membukakan bagian halaman yang akan didiskusikan dengan guru.

Apabila adab dalam belajar tersebut diaplikasikan dalam kegiatan belajar tentunya kita tidak akan menemui permasalahan tentang sikap tidak baik siswa kepada gurunya. Sekali lagi, semua yang terjadi bukanlah menjadi tanggung jawab satu pihak saja, namun semuanya adalah tanggung jawab bersama sehingga bagaimana masing-masing dari kita memainkan peranannya untuk membangun pribadi yang berkarakter.

Oleh : Eka Fitria Ningsih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *